Kang Wira sekolah lagi!Inilah kenapa Kang Wira dah lama nggak ngeblog, baru sekarang updatenya. Kang Wira mendaftar di sekolah tertentu di Jakarta. Kang wira bingung memilih ketika ditanya, "mau masuk kelas yang mana pak?" ada reguler dan non reguler. "Bedanya apa?" ketika Kang Wira iseng nanya. "Pelayanannya dong, pak." kata petugas sambil tersenyum. "Kalau dosen dan mata pelajarannya, sama enggak?" tanya Kang Wira lagi. "Pasti sama pak, nggak dibedakan dengan reguler" kata petugas itu lagi dengan senyum yang hilang. "Kalau harganya?" Kang Wira nanya pura pura bego atau emang bego. "sesuai dengan pelayanannya pak. Kalau reguler sekian kalau non reguler sekian tambah sekian." kata petugas itu dengan cemberut.
Sekarang Kang Wira harus bolak balik Jakarta Indramayu. Mengejar waktu setiap hari Jum'at dan Sabtu. Kalau lagi buru buru, kereta api Cirex yang dipilih kelas bisnis bukan eksekutif. Kang Wira sering jalan jalan dalam kereta menghilangkan kejenuhan. Ngobrol di restorasi dengan para eksekutif maksudnya yang duduk di kelas eksekutif, bahkan sering ikut duduk digerbong eksekutif manakala ada kursi yang kosong. Rasanya? sama saja dengan gerbong kelas bisnis, bedanya kursi dilapisi kain putih nambah bagus tampilannya. Kalau kereta kelas ekonomi rasanya gimana ya? "nggak nyaman mas'. Kata teman ngobrol saya. "Banyak penumpang dan pedagang berseliweran". Namanya juga kelas ekonomi sesuai dengan pelayanannya.
Kang Wira sekarang duduk di bis non ac alias ekonomi dengan penumpang yang berjubel dan pedagang berseliweran. Belum lagi artis jalanan dan pengemis membuat keringat bleberan, nambah kepanasan. Dibelakang jok Kang Wira, ibu ibu ngobrol dengan kencangnya menimpali suara mesin mobil yang menjerit. "anakke kita mah angel, susah diajak ngomomg, soke aja sekolah maning tetep bae pengen sekolah kanggo mangan bae susah apamaning jaluke ning SMA*** edit) kaya wong sugih bae. Kalau diterjemahkan seperti ini, Anakku itu susah di ajak ngomong, disuruh jangan sekolah lagi tetap saja ingin melanjutkan sekolah, untuk makan saja susah, apalagi mintanya ke SMA*** (menyebutkan sebuah sekolah yang biayanya besar) kaya orang kaya aja.
Hari ini Kang Wira kembali pada rutinitas mengajar di kelas. Dia duduk termenung di depan anak anak mengerjakan tugas yang diberikan barusan, sementara terdengar suara lantang rekan Kang Wira menerangkan dari ruang sebelah. "Pendidikan dan pengajaran itu adalah hak setiap warga negara".Kang Wira tercenung memikirkan pembicaraan tadi malam. Tetangganya mengadu bahwa anaknya masuk ke sekolah tempat Kang Wira ngajar. Dia bingung sebab biaya sekolah yang harus ditanggung, tidak sesuai dengan penghasilan dari narik taxinya. Kang Wira tercenung sebab sejak status sekolah Kang Wira berganti menjadi RSBI, banyak tetangga Kang Wira yang ingin menyekolahkan anaknya urungkan niat. Ini bukan kelas kami katanya. "Kang ada enggak sih sekolah yang sesuai dengan kantong kami?". Kang Wira hanya tersenyum sambil berucap "ntar nanti saya buat RSBI Rintisan Sekolah Bebas Iuran bukan bertarif Internasional. Sayup sayup terdengar dari ruang sebelah "Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. Terdengar dengkur Kang Wira di sela riuh anak anak didiknya.
Kamis, 18 Maret 2010
Kamis, 25 Februari 2010
POST POWER SYNDROME
Bulan Februari ini Kang Wira Ikut sibuk mempersiapkan pesta Ultah putrinya, meskipun hati Kang Wira nggak setuju pesta pestaan, ngabisin duit katanya. Gelak tawa dan canda mengiringi pesta, ada kesenangan pada wajah bocah,teman teman anak Kang Wira. Semua pajengan (panitia pelaksana) melayani kebutuhan pesta dan yang dipestakan / yang ulang tahun.
Kang Wira sibuk melayani tuan tuan kecil. Makanan, kueh dan minuman siap diantar kepada tamu undangan dan majikan (anak kang Wira). "Yah ambilin minum dong". "Yah, temen aku minta kue". Tanpa protes kang wira memenuhi semua kemauan anak semata wayangnya yang lagi jadi pusat perhatian. Demi anak tercinta kang Wira juga memberi sambutan dan doa dia awal acara.
Legalah hati Kang Wira setelah semuanya bubar. Pesta telah usai. Doa telah dipanjatkan, makan makan telah dilaksanakan. Tinggal, piring dan gelas kotor berserakan. Istri sibuk membenahi dan kang Wira sibuk menata kembali meja kursi yang tak beraturan. "Yah copotin baju aku dong" tiba tiba anak kang wira minta tolong. "Sayang, kamu sendirikan bisa melepas baju sendiri" sahut Kang Wira memberi penjelasan dengan kekesalan yang disembunyikan. "Lah tadi ayah begitu nurut kala aku minta sesuatu" Kata putri kang wira. "lain sayang, kalau tadi kan banyak tamu, lagian kamu sedang ulang tahun jadi ayah harus melayani semuanya, ya kamu juga teman teman kamu. "Kalau begitu, besok ulang tahun lagi saja, yah" katanya. Abis, kalau aku minta sesuatu nggak ada yang melayani" Katanya kesal.
Kang Wira tersentak, inilah kenapa ayah kang wira kelihatan bingung ketika memasuki masa pensiun. Dia banyak murung setelah menjalani pesiun pada tahun tahun awal. Pesta telah usai bagi seorang pensiunan. Tak bisa lagi meminta atau memerintah bawahannya. Meski ada pesta untuk anaku tahun depan, apakah ada pesta lanjutan untuk para pensiunan untuk bapakku? jawabnya angin telah berlalu dan layar telah berganti.
Kang Wira sibuk melayani tuan tuan kecil. Makanan, kueh dan minuman siap diantar kepada tamu undangan dan majikan (anak kang Wira). "Yah ambilin minum dong". "Yah, temen aku minta kue". Tanpa protes kang wira memenuhi semua kemauan anak semata wayangnya yang lagi jadi pusat perhatian. Demi anak tercinta kang Wira juga memberi sambutan dan doa dia awal acara.
Legalah hati Kang Wira setelah semuanya bubar. Pesta telah usai. Doa telah dipanjatkan, makan makan telah dilaksanakan. Tinggal, piring dan gelas kotor berserakan. Istri sibuk membenahi dan kang Wira sibuk menata kembali meja kursi yang tak beraturan. "Yah copotin baju aku dong" tiba tiba anak kang wira minta tolong. "Sayang, kamu sendirikan bisa melepas baju sendiri" sahut Kang Wira memberi penjelasan dengan kekesalan yang disembunyikan. "Lah tadi ayah begitu nurut kala aku minta sesuatu" Kata putri kang wira. "lain sayang, kalau tadi kan banyak tamu, lagian kamu sedang ulang tahun jadi ayah harus melayani semuanya, ya kamu juga teman teman kamu. "Kalau begitu, besok ulang tahun lagi saja, yah" katanya. Abis, kalau aku minta sesuatu nggak ada yang melayani" Katanya kesal.
Kang Wira tersentak, inilah kenapa ayah kang wira kelihatan bingung ketika memasuki masa pensiun. Dia banyak murung setelah menjalani pesiun pada tahun tahun awal. Pesta telah usai bagi seorang pensiunan. Tak bisa lagi meminta atau memerintah bawahannya. Meski ada pesta untuk anaku tahun depan, apakah ada pesta lanjutan untuk para pensiunan untuk bapakku? jawabnya angin telah berlalu dan layar telah berganti.
Rabu, 10 Februari 2010
LOYALITY
Kang Wira kesel anaknya nangis nggak mau berhenti. Dia terus minta diantar ke kota katanya disana ada arak arakan atau pawai. Sementara, pekerjaan kang wira menumpuk. Kang Wira bingung teringat atasan kang wira pernah ngomong "Kita harus loyal kepada atasan, pemerintah dan negara diatas kepentingan pribadi keluarga dan golongan. "Kang, akang loyal kan kepada saya?" tembak Bapak atasan kang Wira dengan tiba tiba. Kontan Kang Wira gelagapan dan menjawab sekenanya, "Amin!".
"Tuh kan, Yah. Rame" kata Putri Kang Wira ketika sampai di kota. Ya, memang di jalan jalan banyak orang berbaris tak beraturan dan saling berteriak teriak, "Bebaskan atasan kami!". Dia tidak bersalah!". Kang Wira melongo, ini mah bukan pawai tapi demo!". Orang berkerumun di kantor kejaksaan ada yang berteriak teriak, ada yang membawa poster dan ada yang berteriak sambil bawa poster.
Kang Wira terpesona nonton orang demo, penonton demo plus pedagang yang berkumpul. "Lumayan Kang, Kapan lagi ada keramaian seperti ini, ini rejeki yang tak terduga", kata pedagang ketika kang wira menghampiri pedagang yang terdekat karena anaknya minta jajan. Iya, dimana pun ada keramaian pasti ada simbiosis mutualisma. Kata Kang Wira dalam hati.
Tiba tiba ada seorang demonstran ngambil sebotol minuman langsung tenggak habis. "Mas demo apa ini?" tanya kang Wira. "Membela pemimpin kami yang tak bersalah" Katanya. "Apa sih kasusnya? tanya kang wira. "Nggak tahu" jawabnya enteng. "Loh nggak tahu? Emang siapa sih yang kena kasus?" tanya kang wira sekali lagi. Nggak tau juga mas," katanya sambil ngloyor pergi, sebentar kemudian balik lagi sambil berbisik, "saya hanya disuruh teriak teriak. Lumayan, mas, cukup untuk ongkos pulang". Kang Wira cuman bengong. "Ngapain nanya nanya kaya gitu, kang, kaya nggak tau aja" kata pedagang itu. Akang kan tau, Si itu kan sudah terkenal bermasalah, jadi ngapaian ditanyakan.
Kang wira bingung bin pusing, jadi kemanakah loyalitas diserahkan. Keluarga? perlu, negara? 'right or wrong is my country' lah. Gimana pimpinan? ente mau coba? tak pecatlah kau. Kang Wira pulang dengan wajah pucat, anaknya loncat loncat dan teriak menirukan tingkah demonstran. Kang Wira tambah pucat hatinya.
"Tuh kan, Yah. Rame" kata Putri Kang Wira ketika sampai di kota. Ya, memang di jalan jalan banyak orang berbaris tak beraturan dan saling berteriak teriak, "Bebaskan atasan kami!". Dia tidak bersalah!". Kang Wira melongo, ini mah bukan pawai tapi demo!". Orang berkerumun di kantor kejaksaan ada yang berteriak teriak, ada yang membawa poster dan ada yang berteriak sambil bawa poster.
Kang Wira terpesona nonton orang demo, penonton demo plus pedagang yang berkumpul. "Lumayan Kang, Kapan lagi ada keramaian seperti ini, ini rejeki yang tak terduga", kata pedagang ketika kang wira menghampiri pedagang yang terdekat karena anaknya minta jajan. Iya, dimana pun ada keramaian pasti ada simbiosis mutualisma. Kata Kang Wira dalam hati.
Tiba tiba ada seorang demonstran ngambil sebotol minuman langsung tenggak habis. "Mas demo apa ini?" tanya kang Wira. "Membela pemimpin kami yang tak bersalah" Katanya. "Apa sih kasusnya? tanya kang wira. "Nggak tahu" jawabnya enteng. "Loh nggak tahu? Emang siapa sih yang kena kasus?" tanya kang wira sekali lagi. Nggak tau juga mas," katanya sambil ngloyor pergi, sebentar kemudian balik lagi sambil berbisik, "saya hanya disuruh teriak teriak. Lumayan, mas, cukup untuk ongkos pulang". Kang Wira cuman bengong. "Ngapain nanya nanya kaya gitu, kang, kaya nggak tau aja" kata pedagang itu. Akang kan tau, Si itu kan sudah terkenal bermasalah, jadi ngapaian ditanyakan.
Kang wira bingung bin pusing, jadi kemanakah loyalitas diserahkan. Keluarga? perlu, negara? 'right or wrong is my country' lah. Gimana pimpinan? ente mau coba? tak pecatlah kau. Kang Wira pulang dengan wajah pucat, anaknya loncat loncat dan teriak menirukan tingkah demonstran. Kang Wira tambah pucat hatinya.
Sabtu, 23 Januari 2010
BIJAKSANA ATAU BIJAKSINI
Kang Wira duduk dihadapan kopi, asapnya meninggi mencari lubang hidung. Koran yang dipegang melambai tak mampu menangkap pikiran kang wira yang membumbung bersama asap kopi yang terhidang. Ada sebuah berita yang sempat terbaca sebelum seseruput kopi tumpah kebajunya.
Seorang maling semangka diganjar 10 bulan penjara. Prita sempat merasakan dinginnya sel hanya karena nulis unek uneknya pada teman di dunia maya. "Karena hukum memamg itu aturannya" kata hakim.Hukum dan aturankan buatan manusia bisa saja salah ketik Kata tumenggung sebuah negri menanggapi surat edaran dari rajanya. Wijaya bersodara nyeletuk "hukum, hakim dan konconya ada di tangan saya" katanya. Gitu aja repot kata Guru Bangsa almarhum pernah mengatakan.
Kang Wira pusing, asap kopi tak mampu menyadarkannya. Pikiran kang wira melayang mentok pada mizan yang miring. Timbangan bergoyang menghantam dahinya. Kang Wira tersadar. Dahinya benjol. Istrinya tolak pinggang dengan cangkir ditangan "Pagi pagi udah ngantuk lagi, pergi kerja sana !
Seorang maling semangka diganjar 10 bulan penjara. Prita sempat merasakan dinginnya sel hanya karena nulis unek uneknya pada teman di dunia maya. "Karena hukum memamg itu aturannya" kata hakim.Hukum dan aturankan buatan manusia bisa saja salah ketik Kata tumenggung sebuah negri menanggapi surat edaran dari rajanya. Wijaya bersodara nyeletuk "hukum, hakim dan konconya ada di tangan saya" katanya. Gitu aja repot kata Guru Bangsa almarhum pernah mengatakan.
Kang Wira pusing, asap kopi tak mampu menyadarkannya. Pikiran kang wira melayang mentok pada mizan yang miring. Timbangan bergoyang menghantam dahinya. Kang Wira tersadar. Dahinya benjol. Istrinya tolak pinggang dengan cangkir ditangan "Pagi pagi udah ngantuk lagi, pergi kerja sana !
Selasa, 15 Desember 2009
KABAYAN DAN WAJAH KITA
Di Sebuah Desa
Kang Kabayan menghadiri resepsi sahabatnya. Berbeda dengan para tamu yang lain, berbaju rapih dan mewah, Kang Kabayan memakai celana komprang, baju koko dan blangkon plus peniti besar sehingga oleh panitia diusir karena dianggap bukan undangan. Kang Kabayan pulang dengan kesal karena hanya yang berbaju bagus dan mewah saja yang disambut dan disalami sementara Kabayan hanya dilewati.
Dijalan Kang Kabayan berfikir mungkin karena pakaian yang dikenakannya sehingga dia tidak di anggap pada resepsi tadi. Dia balik lagi ke resepsi tadi dengan memakai pakaian mewah seperti undangan yang lain. Dia disambut suka cita dan dihormati oleh panitia penyambut sampai dia pulang. Ketika permisi pulang, Kang kabayan menyalami tamu undangan dan panitia dengan membawa kayu salib yang diberi pakaian mewah yang tadi ia kenakan sementara dia sendiri kembali memakai pakaian kebesarannya celana komprang, baju koko dan blangkon plus peniti besarnya. Dia salami setiap orang dengan memegang lengan baju patung tersebut seolah olah yang bersalaman adalah patung tersebut, bukan Kang Kabayan!
Di Sebuah Sudut Kota
Kang Wira bingung akankah kita jadi kabayan, patung, undangan ataukah panitia?
Akankah kita menjadi Seorang yang memberi nilai kebenaran yang dilindas jaman atas nama kepantasan dan penampilan. Atau pengikut jaman tanpa tahu apa yang dilakukan bukankah ini yang kebanyakan. Kita sering menjadi pengagum dan pengikut kepantasan dan kelayakan tanpa melihat isi dengan alasan memang ini yang harus dilakukan. dan kita harus marah ketika orang lain melakukan suatu hal diluar keumuman katanya abnormal!
Siapakah Kita? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang kata bang Ebiet G Ade.
Kang Kabayan menghadiri resepsi sahabatnya. Berbeda dengan para tamu yang lain, berbaju rapih dan mewah, Kang Kabayan memakai celana komprang, baju koko dan blangkon plus peniti besar sehingga oleh panitia diusir karena dianggap bukan undangan. Kang Kabayan pulang dengan kesal karena hanya yang berbaju bagus dan mewah saja yang disambut dan disalami sementara Kabayan hanya dilewati.
Dijalan Kang Kabayan berfikir mungkin karena pakaian yang dikenakannya sehingga dia tidak di anggap pada resepsi tadi. Dia balik lagi ke resepsi tadi dengan memakai pakaian mewah seperti undangan yang lain. Dia disambut suka cita dan dihormati oleh panitia penyambut sampai dia pulang. Ketika permisi pulang, Kang kabayan menyalami tamu undangan dan panitia dengan membawa kayu salib yang diberi pakaian mewah yang tadi ia kenakan sementara dia sendiri kembali memakai pakaian kebesarannya celana komprang, baju koko dan blangkon plus peniti besarnya. Dia salami setiap orang dengan memegang lengan baju patung tersebut seolah olah yang bersalaman adalah patung tersebut, bukan Kang Kabayan!
Di Sebuah Sudut Kota
Kang Wira bingung akankah kita jadi kabayan, patung, undangan ataukah panitia?
Akankah kita menjadi Seorang yang memberi nilai kebenaran yang dilindas jaman atas nama kepantasan dan penampilan. Atau pengikut jaman tanpa tahu apa yang dilakukan bukankah ini yang kebanyakan. Kita sering menjadi pengagum dan pengikut kepantasan dan kelayakan tanpa melihat isi dengan alasan memang ini yang harus dilakukan. dan kita harus marah ketika orang lain melakukan suatu hal diluar keumuman katanya abnormal!
Siapakah Kita? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang kata bang Ebiet G Ade.
Sabtu, 28 November 2009
UJIAN NASIONAL, KEMANA KITA?
Getaran gempa pro dan kontra pelaksanaan UN 2009/2010 dah terasa. Perlu enggak sih UN?. Yang pro mengatakan bahwa un perlu karena dasar hukumnya sudah jelas Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 75 th 2009 bagi yang kontra mengatakan penghamburan dana karena tujuannya dah nggak karuan. Fungsi UN sudah salah arah bukan lagi sebagai alat evaluasi hasil pendidikan tetapi sudah menjadi pedang tajam bagi kelulusan siswa. Sadar atas akibatnya, sekolah dan pemerintah daerah 'berbaik hati' dengan menutup mata atas kejanggalan pelaksanaan UN.
Lantas bagaimana siswa? dah jelas pengen UN dihapuskan. Bagai mana para pengajar? Asal Un kembali fungsinya sebagai alat ukur pelaksanaan pendidikan disekolah teman saya mendukung. Bagaimana dengan kita? tanya saja pada Bapak Oemar Bakrienya Bang Iwan
Lantas bagaimana siswa? dah jelas pengen UN dihapuskan. Bagai mana para pengajar? Asal Un kembali fungsinya sebagai alat ukur pelaksanaan pendidikan disekolah teman saya mendukung. Bagaimana dengan kita? tanya saja pada Bapak Oemar Bakrienya Bang Iwan
Kamis, 23 April 2009
WEBSITE SMA NEGERI 1 INDRAMAYU
SELAMAT DAN SUKSES
SMA NEGERI 1 INDRAMAYU sekarang sudah punya website alamatnya klik disini di www.smansayu.sch.id
tugas kita sebagai warga sma negeri 1 indramayu adalah memeliharanya dan menjaganya. Untuk alumni SMA NEGERI 1 INDRAMAYU silahkan registrasi ke http://hiassi.blogspot.com/ atau disini
Mari kita bangun SMA NEGERI 1 INDRAMAYU menjadi smansayu cyber school
smoga
Go@ang
SMA NEGERI 1 INDRAMAYU sekarang sudah punya website alamatnya klik disini di www.smansayu.sch.id
tugas kita sebagai warga sma negeri 1 indramayu adalah memeliharanya dan menjaganya. Untuk alumni SMA NEGERI 1 INDRAMAYU silahkan registrasi ke http://hiassi.blogspot.com/ atau disini
Mari kita bangun SMA NEGERI 1 INDRAMAYU menjadi smansayu cyber school
smoga
Go@ang
Langganan:
Postingan (Atom)