PART I: More Pay for Nothing
Kang Wira nyuruput kopi yang didepannya, hangatnya kopi dan sejuknya udara AC adalah kelengkapan hidup yang tiada tara bagi Kang Wira. Jari jemarinya sesekali memencet tut yang didepan tangannya, sementara monitor computer menampilkan wajah wajah siswanya bergantian, kadang close up juga zoom tergantung Kang Wira mengaturnya. Mereka asyik dengan komputernya masing masing dengan aktifitas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ruang kelas yang Kang Wira tempati sangat high tech oriented semuanya tinggal press and see. Sekolah tempat Kang Wira mengajar, siswanya tak perlu membawa buku atau alat tulis konvensional, semua fasilitas dan informasi telah tersedia, kalaupun ingin mencatat atau membawa informasi penting tinggal simpan pada laptop yang mereka bawa. Sebuah kemudahan yang pantas mereka dapatkan sesuai dengan uang yang telah mereka berikan.
Hari itu, Kang Wira mengajar siswanya dengan berlatih percakapan. Mereka berlatih percakapan yang lawan bicaranya adalah computer, dengan headset dikepala memungkinkan mereka tak menggangu teman yang lain. Kang Wira telah menyiapkan program animasi interaktif 3D sehingga dia hanya memperhatikan ucapan atau ungkapan yang diutarakan siswanya. Monitor didepanya telah merekam semua aktifitas termasuk track record kesalahan yang dibuat siswa dan hasil perbaikannnya. Kang Wira tak perlu memotong aktifitas mereka bila terjadi kesalahan atau kekurangan dalam percakapan, semuanya telah dilakukan oleh computer. “Ok, students you’ve practiced the conversation and now put your headset off” Kang Wira memberi perintah. You’ve got to make a brief conversation in front of the class for tomorrow. Kang Wira mengakhiri kelasnya dengan wejangan ringan dan tugas yang harus diselesaikan oleh siswanya untuk pertemuan yang akan datang.
Di kelas sebelahnya, Kang Wira masih mendengar rekan sejawatnya cas cis cus nyrucus mengajarkan sejarah runtuhnya Kerajaan Singosari dengan Bahasa Inggris yang fasih. Di sekolah ini, setiap guru wajib menyampaikan pelajarannya dengan Bahasa Inggris. Bagi rekan sejawat Kang Wira, menyampaikan materinya dengan memakai Bahasa Inggris bukanlah persoalan karena mereka telah mendapatkannya sejak kuliah katanya bahkan dosen mereka pun menyampaikan materinya dengan memakai Bahasa Inggris. Di lapangan guru olah raga memberi perintah dalam Bahasa Inggris, bahkan anak anak pun bersenda gurau dengan Bahasa Inggris.
“Eeh …. Kang Wira, koq jalannya sambil melamun”, Kata Pak Oemar guru Bahasa Indonesia sudah di depan mengagetkan dan tertabrak Kang Wira. Oh, sorry Mr. Oemar I haven’t seen you, forgive me, Kang Wira meminta maaf. Mata Kang Wira memang tidak lagi kedepan tapi melihat anak anak yang lagi olah raga sehingga tidak tahu ada dia. Oh, I have just seen the student’s, they are good looking. Tanpa sadar Kang Wira menjawab dalam Bahasa Inggris, “Kang …. Kita ini bukan di negeri Inggris, kita ada di Indonesia jadi berbicaralah dengan memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar” Kata Pak Oemar dengan cemberut.
Tiba tiba perut Kang Wira mual mau muntah, mata berkunang kunang, kopi yang tadi di minum memang nikmat ketika udara sejuk tapi tidak nikmat bagi perut Kang Wira yang keroncongan tak sempat sarapan pagi. Akang Wira jatuh pingsan. “Pak ….. pak…..bangun. sekarang pelajaran sejarah pak”. Suara anak membangunkan Kang Wira, “Tadi bapak tidur nyenyak banget mimpi jorok ya pak?” kata anak anak sambil tertawa. Kang Wira berdiri gontai langsung ngomong, “kumpulkan pekerjaan kalian dan kirim melalui email bapak” anak anak tambah riuh. E….. mail mah adanya di Ipin Upin pak, kata anak anak terpingkal pingkal. Kang Wira bengong.
Senin, 21 Juni 2010
Selasa, 15 Juni 2010
PUT IT A WHOLE OR NEVER
Kang Wira Tersenyum manalaka teringat kata kata anaknya waktu masih umur 7 tahun. Anak perempuan Kang Wira itu lucu, menggemaskan dan tukang ngomong, bahkan tetangga Kang Wira pernah berkata bahwa anak itu ngomongnya melebihi umurnya. "Nok, kamu kelas berapa?" sering orang bertanya bila ketemu anak Kang Wira. "Kelas satu setengah", jawabnya. "Loh?" emang ada kelas satu setengah di SD? tanya teman Kang Wira sambil tertawa.Ada.. Enggak tahu ya", jawab anakku. Kang Wira Juga bangga dengan anaknya, jiwa sosialnya tinggi. Walau hanya punya makanan ditangan dia bagi setengahan dengan temannya.
Ngomong ngomong tentang setengah, kang Wira sering bingung ada sebagian orang mengatakan makan itu jangan langsung semuanya, nggak nikmat, sedikit sedikit, setengah setengah itu lebih nikmat. Tapi adalagi yang mengatakan, kalau bertindak jangan setengah setengah, kerjakan segala sesuatu sampai tuntas selagi masih semangat, "Do while iron is hot". Dan, almarhum Mama Laurent pun bilang kalau setengah setengah itu tandanya orang peragu, kelak disuatu masa dia akan merugi, susah hidupnya. Peragu adalah pecundang.
Bertindak setengeh setengah juga ada nikmatnya seperti makanan. Ketika ada duri atau makanan yang tidak disukai ya jangan dimakan. Dan itulah yang sering kita lakukan ketika suatu aturan menguntungkan kita, pasti diikuti semua, misalnya kalau diberi kebebasan untuk memungut biaya dari bawahan atau masyarakat tanpa dilihat lagi langsung diikuti bahkan diagungkan aturan itu,tapi bila ada syarat yang mengikat yang harus dilakukan maka dicari celah untuk menghindar, dan dicari pembenaran atas suatu tindakan yang diluar ketentuan. "Proyek kita ini adalah semi, jadi kita belum semua aturan kita jalankan" kata atasan kang Wira.
Ayah .... Bangun! makan koq sambil tidur? kata anakku mengagetkan. Enggak .... ayah cuma ngantuk, setengah tidur, jawabku beralasan. Kalau tidur ... ya tidur, kalau makan ... ya makan, jangan nidurin makanan, kata anakku lagi. Kang wira hanya tersenyum sambil ngloyor meninggalkan makanan dimeja dan tidur dengan sukses
Ngomong ngomong tentang setengah, kang Wira sering bingung ada sebagian orang mengatakan makan itu jangan langsung semuanya, nggak nikmat, sedikit sedikit, setengah setengah itu lebih nikmat. Tapi adalagi yang mengatakan, kalau bertindak jangan setengah setengah, kerjakan segala sesuatu sampai tuntas selagi masih semangat, "Do while iron is hot". Dan, almarhum Mama Laurent pun bilang kalau setengah setengah itu tandanya orang peragu, kelak disuatu masa dia akan merugi, susah hidupnya. Peragu adalah pecundang.
Bertindak setengeh setengah juga ada nikmatnya seperti makanan. Ketika ada duri atau makanan yang tidak disukai ya jangan dimakan. Dan itulah yang sering kita lakukan ketika suatu aturan menguntungkan kita, pasti diikuti semua, misalnya kalau diberi kebebasan untuk memungut biaya dari bawahan atau masyarakat tanpa dilihat lagi langsung diikuti bahkan diagungkan aturan itu,tapi bila ada syarat yang mengikat yang harus dilakukan maka dicari celah untuk menghindar, dan dicari pembenaran atas suatu tindakan yang diluar ketentuan. "Proyek kita ini adalah semi, jadi kita belum semua aturan kita jalankan" kata atasan kang Wira.
Ayah .... Bangun! makan koq sambil tidur? kata anakku mengagetkan. Enggak .... ayah cuma ngantuk, setengah tidur, jawabku beralasan. Kalau tidur ... ya tidur, kalau makan ... ya makan, jangan nidurin makanan, kata anakku lagi. Kang wira hanya tersenyum sambil ngloyor meninggalkan makanan dimeja dan tidur dengan sukses
Rabu, 14 April 2010
DON’T SEE A BOOK BY ITS COVER
“Yah, jangan lupa beliin coklat. Itulah yang sering Kang Wira dengar setiap pagi ketika nganterin anak ke sekolah. Dan memang Kang Wira seperti biasa, siangnya lupa membelikannya. Hasilnya, anaknya sewot, “Ayah nih kenapa sih lupa terus, aku kan pengen coklat. “Ya udah nanti ayah beliin”, Kang Wira membujuk anaknya. Untuk menebus rasa bersalahnya Kang Wira langsung pergi membeli coklat pesenan anaknya. Dibelinya sekaleng coklat, dipilihnya kaleng yang masih bangus dengan tanggal kadaluarsa yang masih jauh.
“Makasih, Yah”. Anakku menerima coklat itu dengan senangnya. Dia langsung buka kalengnya dan ambil sebungkus yang bungkusannya juga masih bagus. Langsung dimakannya coklat itu. “Hueek …tiba tiba anak Kang Wira muntah. “Kenapa Nok”, Kang Wira menanyakan. “Yah kok coklatnya enggak enak. Kang Wira langsung mengambil coklat yang digenggaman anaknya, dia juga mengambil sebungkus coklat dari kaleng. Ketika diraba coklat yang masih dibungkus terasa lembek tidak seperti coklat biasanya yang keras. Ketika ia coba jilat coklat yang sudah terbuka memang terasa agak enggak enak. Kang Wira cepat ambil dan masukan ke dalam kaleng coklat yang tersisa dan beberapa bungkus coklat yang lain. “Dah jangan dimakan nanti ayah belikan lagi coklat yang enak, menghibur anaknya yang kecewa.
Di supermarket Kang Wira langsung menuju customer’s service, “mBak kalau jualan tolong barangnya di periksa dulu, masa menjual barang yang jelek dan sudah rusak”, kata Kang Wira dengan kekesalan yang ditahan. Kang Wira menyerahkan coklat yang terasa agak enggak enak itu. “Mas, semua barang yang kami tawarkan sudah melalui pemeriksaan, baik kemasan maupun produk, tapi produk ini memang rasanya demikian”, kata penjaga itu dengan ramah. Lah, inilah resiko mencoba produk baru, tidak tahu barang langsung dibeli saja, pikir Kang Wira. Akhirnya dia terpaksa membeli coklat merek lain yang dia tahu anaknya suka.
Sampai di rumah, Kang Wira kedatangan tamu. Teman ketika di Sekolah Dasar meminta bantuan agar anaknya bisa masuk ke sekolah dimana Kang Wira bekerja. Kenapa ingin masuk kesekolah kami ? Kang Wira mencoba basa basi. Sekolahnya sampean kan termasuk sekolah favorit, Kang. Gedungnya bagus, fasilitasnya lengkap, terus anak anak nya pinter pinter, satu lagi Kang. Sekolahan Akang kan termasuk RSBI makanya anak saya ingin belajar disekolah sampean (anda), teman Kang Wira mencoba memberi alasan dengan memuji sekolahnya. Tapi kan bulanan nya (uang sekolah) mahal, kata Kang Wira memberi pendapat. Apalah artinya duit kalau untuk pendidikan anak, katanya seperti pejabat berpendapat. Ya sudah nanti saya bantu mendaftarkannya, tapi tidak menjamin anak sapean bisa masuk kecuali lulus test seleksi, Kang Wira mencoba berdiplomasi. Ayolah Kang, sampeankan orang dalam, pasti ada jatah untuk memastikan anak saya bisa lulus seleksi, kata teman Kang Wira merajuk. Kira kira berapa Kang ongkosnya? Tanyanya. Maksudnya? Kang Wira balik bertanya. Ya untuk memastikan anak saya bisa masuk itu. Wah saya kurang paham itu, jawab Kang Wira . Ya udah nanti saya akan ngomong langsung ke kepala sekolah sampean apa yang dibutuhkan sekolah katanya dengan sedikit kesal karena Kang Wira tak bisa membantunya.
Hari ini ada briefing dari Bapak Kepala Sekolah. Briefing adalah menu mingguan setelah upacara bendera tiap hari senin. Ada rasa kebanggaan di wajah beliau, “Sekolah kita sekarang telah meningkat mutunya dari sekolah regular menjadi Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Salah satu sarat untuk menjadi RSBI adalah tersedianya sarana gedung yang memadai untuk sekolah berstatus SBI, kita telah diberi dana oleh pemerintah untuk membangun gedung yang nantinya akan kita lengkapi dengan sarana multi media. Dengan demikian ujar beliau mutu siswa akan meningkat pula. Kejenuhan dan kelelahan sehabis upacara membuat peserta briefing kurang konsentrasi pada isi briefing, termasuk Kang Wira. Koran yang di tangan hanyalah alat untu menutupi matanya yang terpejam. Berita yang didepannya yang menyatakan bahwa indek keterpercayaan Perguruan Tinggi Negeri terhadap mutu lulusan SLTA baik SMA maupun SMK di Jawa Barat hanya 10% lamat lamat hilang dari pandangannya. Suara kebanggaan itupun sudah lama tak terdengar. “Ru … ru ngajar ru” terdengar suara temen Kang Wira menyadarkan dari tidurnya. Bergegas Kang Wira menuju kelas.
Kang Wira sedang mengawas ujian sekolah. Ada beberapa kesalahan soal yang harus diralat membuat Kang Wira harus menulis di papan tulis. Tiba tiba spidol yang ia gunakan tintanya habis. Kang Wira mencari spidol yang masih bisa digunakan, dua yang lain sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah kering. “Coba kamu ke ruang tata usaha minta spidol baru atau tintanya saja”, Kang Wira menyuruh salah seorang siswa. “Pak pintunya dibuka saja pak, gerah, Kata anak yang dibelakang, “AC nya mati”, yang lain berteriak. Pak spidol dan tintanya habis pak kata staf TUnya, anak yang disuruh mengambil spidol di TU itu telah kembali. Ya …. Sudah kerjakan kembali pekerjaanmu kata Kang Wira. Dia ingat ada spidol dalam tasnya. Ketika meraba isi tasnya didapat coklat yang dia beli kemarin, lupa ngasihkan ke anaknya yang meminta. Dipandangi coklat itu bungkus dan kertasnya kurang menarik. Di buka bungkusnya dan di coba coklat itu ternyata enak. Kang Wira lupa bahwa dia harus menulis ralat soal yang salah tulis di papan tulis. Jangan melihat coklat dari bungkusnya!
“Makasih, Yah”. Anakku menerima coklat itu dengan senangnya. Dia langsung buka kalengnya dan ambil sebungkus yang bungkusannya juga masih bagus. Langsung dimakannya coklat itu. “Hueek …tiba tiba anak Kang Wira muntah. “Kenapa Nok”, Kang Wira menanyakan. “Yah kok coklatnya enggak enak. Kang Wira langsung mengambil coklat yang digenggaman anaknya, dia juga mengambil sebungkus coklat dari kaleng. Ketika diraba coklat yang masih dibungkus terasa lembek tidak seperti coklat biasanya yang keras. Ketika ia coba jilat coklat yang sudah terbuka memang terasa agak enggak enak. Kang Wira cepat ambil dan masukan ke dalam kaleng coklat yang tersisa dan beberapa bungkus coklat yang lain. “Dah jangan dimakan nanti ayah belikan lagi coklat yang enak, menghibur anaknya yang kecewa.
Di supermarket Kang Wira langsung menuju customer’s service, “mBak kalau jualan tolong barangnya di periksa dulu, masa menjual barang yang jelek dan sudah rusak”, kata Kang Wira dengan kekesalan yang ditahan. Kang Wira menyerahkan coklat yang terasa agak enggak enak itu. “Mas, semua barang yang kami tawarkan sudah melalui pemeriksaan, baik kemasan maupun produk, tapi produk ini memang rasanya demikian”, kata penjaga itu dengan ramah. Lah, inilah resiko mencoba produk baru, tidak tahu barang langsung dibeli saja, pikir Kang Wira. Akhirnya dia terpaksa membeli coklat merek lain yang dia tahu anaknya suka.
Sampai di rumah, Kang Wira kedatangan tamu. Teman ketika di Sekolah Dasar meminta bantuan agar anaknya bisa masuk ke sekolah dimana Kang Wira bekerja. Kenapa ingin masuk kesekolah kami ? Kang Wira mencoba basa basi. Sekolahnya sampean kan termasuk sekolah favorit, Kang. Gedungnya bagus, fasilitasnya lengkap, terus anak anak nya pinter pinter, satu lagi Kang. Sekolahan Akang kan termasuk RSBI makanya anak saya ingin belajar disekolah sampean (anda), teman Kang Wira mencoba memberi alasan dengan memuji sekolahnya. Tapi kan bulanan nya (uang sekolah) mahal, kata Kang Wira memberi pendapat. Apalah artinya duit kalau untuk pendidikan anak, katanya seperti pejabat berpendapat. Ya sudah nanti saya bantu mendaftarkannya, tapi tidak menjamin anak sapean bisa masuk kecuali lulus test seleksi, Kang Wira mencoba berdiplomasi. Ayolah Kang, sampeankan orang dalam, pasti ada jatah untuk memastikan anak saya bisa lulus seleksi, kata teman Kang Wira merajuk. Kira kira berapa Kang ongkosnya? Tanyanya. Maksudnya? Kang Wira balik bertanya. Ya untuk memastikan anak saya bisa masuk itu. Wah saya kurang paham itu, jawab Kang Wira . Ya udah nanti saya akan ngomong langsung ke kepala sekolah sampean apa yang dibutuhkan sekolah katanya dengan sedikit kesal karena Kang Wira tak bisa membantunya.
Hari ini ada briefing dari Bapak Kepala Sekolah. Briefing adalah menu mingguan setelah upacara bendera tiap hari senin. Ada rasa kebanggaan di wajah beliau, “Sekolah kita sekarang telah meningkat mutunya dari sekolah regular menjadi Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Salah satu sarat untuk menjadi RSBI adalah tersedianya sarana gedung yang memadai untuk sekolah berstatus SBI, kita telah diberi dana oleh pemerintah untuk membangun gedung yang nantinya akan kita lengkapi dengan sarana multi media. Dengan demikian ujar beliau mutu siswa akan meningkat pula. Kejenuhan dan kelelahan sehabis upacara membuat peserta briefing kurang konsentrasi pada isi briefing, termasuk Kang Wira. Koran yang di tangan hanyalah alat untu menutupi matanya yang terpejam. Berita yang didepannya yang menyatakan bahwa indek keterpercayaan Perguruan Tinggi Negeri terhadap mutu lulusan SLTA baik SMA maupun SMK di Jawa Barat hanya 10% lamat lamat hilang dari pandangannya. Suara kebanggaan itupun sudah lama tak terdengar. “Ru … ru ngajar ru” terdengar suara temen Kang Wira menyadarkan dari tidurnya. Bergegas Kang Wira menuju kelas.
Kang Wira sedang mengawas ujian sekolah. Ada beberapa kesalahan soal yang harus diralat membuat Kang Wira harus menulis di papan tulis. Tiba tiba spidol yang ia gunakan tintanya habis. Kang Wira mencari spidol yang masih bisa digunakan, dua yang lain sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah kering. “Coba kamu ke ruang tata usaha minta spidol baru atau tintanya saja”, Kang Wira menyuruh salah seorang siswa. “Pak pintunya dibuka saja pak, gerah, Kata anak yang dibelakang, “AC nya mati”, yang lain berteriak. Pak spidol dan tintanya habis pak kata staf TUnya, anak yang disuruh mengambil spidol di TU itu telah kembali. Ya …. Sudah kerjakan kembali pekerjaanmu kata Kang Wira. Dia ingat ada spidol dalam tasnya. Ketika meraba isi tasnya didapat coklat yang dia beli kemarin, lupa ngasihkan ke anaknya yang meminta. Dipandangi coklat itu bungkus dan kertasnya kurang menarik. Di buka bungkusnya dan di coba coklat itu ternyata enak. Kang Wira lupa bahwa dia harus menulis ralat soal yang salah tulis di papan tulis. Jangan melihat coklat dari bungkusnya!
Kamis, 01 April 2010
Monkey and The broken Mirror
Hari ini Kang Wira Kesel sudah hampir dua jam nungguin istrinya yang lagi dandan mau pergi kondangan. 'Bu, cepetan sih, Bu. Sudah hampir jam sembilan nih, khan enggak enak kalau terlambat datangnya. Sedang apa sih, dandannya koq lama banget?. "Sabar sih yah, ini juga hampir selesai. Sudah sebatang rokok dihabiskan namun istrinya belum juga keluar dari kamar, Kang Wira masuk melihat istrinya sedang magut magut diri di depan cermin sambil cemberut. Dia lihat istrinya berkali kali memoles wajahnya dan menghapus kembali bedak yang dipolesnya. Dia tidak puas atas hasil yang didapat masih banyak clemang clemong disana sini. Akhirnya, bedak bertaburan di cermin hasil lemparan istri, untung tidak pecah.
Koran hari ini memberitakan hal yang Kang Wira baca, tak mampu menghapus suara kekesalan istri atas kegagalan usahanya menghias wajah, belum lagi kekesalannya menunggu lama. Berita hari ini yang mengabarkan tentang pro dan kontra pelaksanaan Ujian Nasional, sepertinya hal yang rutin tiap akan pelaksanaan UN, ini pun tak mampu menepis kekesalan kang Wira. Kalau pelaksanaan UN yang amburadul jangan UN nya yang di hapus kata Kang Wira dalam hati menumpahkan kekesalannya. Ujian Nasionalkan adalah cermin prestasi siswa dalam belajar, Kang Wira berpendapat. Masa, pelaksanaan yang amburadul dan hasil UN kurang memuaskan mesti menghapus UN, Kang Wira meneruskan komentarnya. “Sudah, Yah, yuk kita berangkat”, kata istri mengagetkan Kang Wira.
Dirumah yang hajat Kang Wira ketemu teman temannya dan ngobrol ngalor ngidul. “Coba bayangkan kita disuruh bayar pajak, iklan menyarankan kita menjadi wajib pajak yang baik, dari pak presiden sampai pak RT ngejar ngejar orang supaya bayar pajak, udah bayar duitnya ditilep oleh orang pajaknya sendiri, kata teman sebelah Kang Wira kesal. Yang lainnya malah menyarankan kalau begini mendingan jangan bayar pajak lagi, percuma katanya. Kang Wira menyeringai sambil berkata jangan karena oknum yang jahat maka aturan yang diganti. Seberapapun banyak aturan yang diganti kalau pelaksananya kayak Gayus semua ya tetep aja.
Dekat dengan rumah yang punya hajat banyak orang yang berkumpul, anak anak bersorak kegirangan, suara gending dan gendang bersautan. Kang Wira melongok ada apa gerangan, di tengah kerumunan seekor monyet sedang naik mobil main. Penonton tertawa senang, anak anak kegirangan. Sang Pawang memegang ujung rantai yang mengikat pinggang sang monyet, member perintah melalui hentakan. “Sekarang Sarinten mau kepasar, biar cantik kita dandan dulu. Sang pawang memberikan kotak dan cermin, dan monyet itu membuka kotak dan bertingkah seperti sedang bedakan. “Coba udah cantik belum?” Kata pawang. Dia mengambil cermin dan berkaca, tiba tiba monyet itu membanting kaca dan berubah galak dan menyeringai memperlihatkan gigi giginya. Monyet itu lari mengejar anak kesana kemari karena tertahan rantai. Tiba tiba rantainya putus, monyet itu lari mengejar Kang Wira. Dia lari ketakutan untung bisa ditangkap lagi sama pawangnya. Istrinya tertawa terpingkal entah mentertawakan diri sendiri atau melihat suaminya lari tunggang langgang.
Koran hari ini memberitakan hal yang Kang Wira baca, tak mampu menghapus suara kekesalan istri atas kegagalan usahanya menghias wajah, belum lagi kekesalannya menunggu lama. Berita hari ini yang mengabarkan tentang pro dan kontra pelaksanaan Ujian Nasional, sepertinya hal yang rutin tiap akan pelaksanaan UN, ini pun tak mampu menepis kekesalan kang Wira. Kalau pelaksanaan UN yang amburadul jangan UN nya yang di hapus kata Kang Wira dalam hati menumpahkan kekesalannya. Ujian Nasionalkan adalah cermin prestasi siswa dalam belajar, Kang Wira berpendapat. Masa, pelaksanaan yang amburadul dan hasil UN kurang memuaskan mesti menghapus UN, Kang Wira meneruskan komentarnya. “Sudah, Yah, yuk kita berangkat”, kata istri mengagetkan Kang Wira.
Dirumah yang hajat Kang Wira ketemu teman temannya dan ngobrol ngalor ngidul. “Coba bayangkan kita disuruh bayar pajak, iklan menyarankan kita menjadi wajib pajak yang baik, dari pak presiden sampai pak RT ngejar ngejar orang supaya bayar pajak, udah bayar duitnya ditilep oleh orang pajaknya sendiri, kata teman sebelah Kang Wira kesal. Yang lainnya malah menyarankan kalau begini mendingan jangan bayar pajak lagi, percuma katanya. Kang Wira menyeringai sambil berkata jangan karena oknum yang jahat maka aturan yang diganti. Seberapapun banyak aturan yang diganti kalau pelaksananya kayak Gayus semua ya tetep aja.
Dekat dengan rumah yang punya hajat banyak orang yang berkumpul, anak anak bersorak kegirangan, suara gending dan gendang bersautan. Kang Wira melongok ada apa gerangan, di tengah kerumunan seekor monyet sedang naik mobil main. Penonton tertawa senang, anak anak kegirangan. Sang Pawang memegang ujung rantai yang mengikat pinggang sang monyet, member perintah melalui hentakan. “Sekarang Sarinten mau kepasar, biar cantik kita dandan dulu. Sang pawang memberikan kotak dan cermin, dan monyet itu membuka kotak dan bertingkah seperti sedang bedakan. “Coba udah cantik belum?” Kata pawang. Dia mengambil cermin dan berkaca, tiba tiba monyet itu membanting kaca dan berubah galak dan menyeringai memperlihatkan gigi giginya. Monyet itu lari mengejar anak kesana kemari karena tertahan rantai. Tiba tiba rantainya putus, monyet itu lari mengejar Kang Wira. Dia lari ketakutan untung bisa ditangkap lagi sama pawangnya. Istrinya tertawa terpingkal entah mentertawakan diri sendiri atau melihat suaminya lari tunggang langgang.
Kamis, 18 Maret 2010
V.I.P AND ECONOMIC SCHOOL
Kang Wira sekolah lagi!Inilah kenapa Kang Wira dah lama nggak ngeblog, baru sekarang updatenya. Kang Wira mendaftar di sekolah tertentu di Jakarta. Kang wira bingung memilih ketika ditanya, "mau masuk kelas yang mana pak?" ada reguler dan non reguler. "Bedanya apa?" ketika Kang Wira iseng nanya. "Pelayanannya dong, pak." kata petugas sambil tersenyum. "Kalau dosen dan mata pelajarannya, sama enggak?" tanya Kang Wira lagi. "Pasti sama pak, nggak dibedakan dengan reguler" kata petugas itu lagi dengan senyum yang hilang. "Kalau harganya?" Kang Wira nanya pura pura bego atau emang bego. "sesuai dengan pelayanannya pak. Kalau reguler sekian kalau non reguler sekian tambah sekian." kata petugas itu dengan cemberut.
Sekarang Kang Wira harus bolak balik Jakarta Indramayu. Mengejar waktu setiap hari Jum'at dan Sabtu. Kalau lagi buru buru, kereta api Cirex yang dipilih kelas bisnis bukan eksekutif. Kang Wira sering jalan jalan dalam kereta menghilangkan kejenuhan. Ngobrol di restorasi dengan para eksekutif maksudnya yang duduk di kelas eksekutif, bahkan sering ikut duduk digerbong eksekutif manakala ada kursi yang kosong. Rasanya? sama saja dengan gerbong kelas bisnis, bedanya kursi dilapisi kain putih nambah bagus tampilannya. Kalau kereta kelas ekonomi rasanya gimana ya? "nggak nyaman mas'. Kata teman ngobrol saya. "Banyak penumpang dan pedagang berseliweran". Namanya juga kelas ekonomi sesuai dengan pelayanannya.
Kang Wira sekarang duduk di bis non ac alias ekonomi dengan penumpang yang berjubel dan pedagang berseliweran. Belum lagi artis jalanan dan pengemis membuat keringat bleberan, nambah kepanasan. Dibelakang jok Kang Wira, ibu ibu ngobrol dengan kencangnya menimpali suara mesin mobil yang menjerit. "anakke kita mah angel, susah diajak ngomomg, soke aja sekolah maning tetep bae pengen sekolah kanggo mangan bae susah apamaning jaluke ning SMA*** edit) kaya wong sugih bae. Kalau diterjemahkan seperti ini, Anakku itu susah di ajak ngomong, disuruh jangan sekolah lagi tetap saja ingin melanjutkan sekolah, untuk makan saja susah, apalagi mintanya ke SMA*** (menyebutkan sebuah sekolah yang biayanya besar) kaya orang kaya aja.
Hari ini Kang Wira kembali pada rutinitas mengajar di kelas. Dia duduk termenung di depan anak anak mengerjakan tugas yang diberikan barusan, sementara terdengar suara lantang rekan Kang Wira menerangkan dari ruang sebelah. "Pendidikan dan pengajaran itu adalah hak setiap warga negara".Kang Wira tercenung memikirkan pembicaraan tadi malam. Tetangganya mengadu bahwa anaknya masuk ke sekolah tempat Kang Wira ngajar. Dia bingung sebab biaya sekolah yang harus ditanggung, tidak sesuai dengan penghasilan dari narik taxinya. Kang Wira tercenung sebab sejak status sekolah Kang Wira berganti menjadi RSBI, banyak tetangga Kang Wira yang ingin menyekolahkan anaknya urungkan niat. Ini bukan kelas kami katanya. "Kang ada enggak sih sekolah yang sesuai dengan kantong kami?". Kang Wira hanya tersenyum sambil berucap "ntar nanti saya buat RSBI Rintisan Sekolah Bebas Iuran bukan bertarif Internasional. Sayup sayup terdengar dari ruang sebelah "Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. Terdengar dengkur Kang Wira di sela riuh anak anak didiknya.
Sekarang Kang Wira harus bolak balik Jakarta Indramayu. Mengejar waktu setiap hari Jum'at dan Sabtu. Kalau lagi buru buru, kereta api Cirex yang dipilih kelas bisnis bukan eksekutif. Kang Wira sering jalan jalan dalam kereta menghilangkan kejenuhan. Ngobrol di restorasi dengan para eksekutif maksudnya yang duduk di kelas eksekutif, bahkan sering ikut duduk digerbong eksekutif manakala ada kursi yang kosong. Rasanya? sama saja dengan gerbong kelas bisnis, bedanya kursi dilapisi kain putih nambah bagus tampilannya. Kalau kereta kelas ekonomi rasanya gimana ya? "nggak nyaman mas'. Kata teman ngobrol saya. "Banyak penumpang dan pedagang berseliweran". Namanya juga kelas ekonomi sesuai dengan pelayanannya.
Kang Wira sekarang duduk di bis non ac alias ekonomi dengan penumpang yang berjubel dan pedagang berseliweran. Belum lagi artis jalanan dan pengemis membuat keringat bleberan, nambah kepanasan. Dibelakang jok Kang Wira, ibu ibu ngobrol dengan kencangnya menimpali suara mesin mobil yang menjerit. "anakke kita mah angel, susah diajak ngomomg, soke aja sekolah maning tetep bae pengen sekolah kanggo mangan bae susah apamaning jaluke ning SMA*** edit) kaya wong sugih bae. Kalau diterjemahkan seperti ini, Anakku itu susah di ajak ngomong, disuruh jangan sekolah lagi tetap saja ingin melanjutkan sekolah, untuk makan saja susah, apalagi mintanya ke SMA*** (menyebutkan sebuah sekolah yang biayanya besar) kaya orang kaya aja.
Hari ini Kang Wira kembali pada rutinitas mengajar di kelas. Dia duduk termenung di depan anak anak mengerjakan tugas yang diberikan barusan, sementara terdengar suara lantang rekan Kang Wira menerangkan dari ruang sebelah. "Pendidikan dan pengajaran itu adalah hak setiap warga negara".Kang Wira tercenung memikirkan pembicaraan tadi malam. Tetangganya mengadu bahwa anaknya masuk ke sekolah tempat Kang Wira ngajar. Dia bingung sebab biaya sekolah yang harus ditanggung, tidak sesuai dengan penghasilan dari narik taxinya. Kang Wira tercenung sebab sejak status sekolah Kang Wira berganti menjadi RSBI, banyak tetangga Kang Wira yang ingin menyekolahkan anaknya urungkan niat. Ini bukan kelas kami katanya. "Kang ada enggak sih sekolah yang sesuai dengan kantong kami?". Kang Wira hanya tersenyum sambil berucap "ntar nanti saya buat RSBI Rintisan Sekolah Bebas Iuran bukan bertarif Internasional. Sayup sayup terdengar dari ruang sebelah "Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. Terdengar dengkur Kang Wira di sela riuh anak anak didiknya.
Kamis, 25 Februari 2010
POST POWER SYNDROME
Bulan Februari ini Kang Wira Ikut sibuk mempersiapkan pesta Ultah putrinya, meskipun hati Kang Wira nggak setuju pesta pestaan, ngabisin duit katanya. Gelak tawa dan canda mengiringi pesta, ada kesenangan pada wajah bocah,teman teman anak Kang Wira. Semua pajengan (panitia pelaksana) melayani kebutuhan pesta dan yang dipestakan / yang ulang tahun.
Kang Wira sibuk melayani tuan tuan kecil. Makanan, kueh dan minuman siap diantar kepada tamu undangan dan majikan (anak kang Wira). "Yah ambilin minum dong". "Yah, temen aku minta kue". Tanpa protes kang wira memenuhi semua kemauan anak semata wayangnya yang lagi jadi pusat perhatian. Demi anak tercinta kang Wira juga memberi sambutan dan doa dia awal acara.
Legalah hati Kang Wira setelah semuanya bubar. Pesta telah usai. Doa telah dipanjatkan, makan makan telah dilaksanakan. Tinggal, piring dan gelas kotor berserakan. Istri sibuk membenahi dan kang Wira sibuk menata kembali meja kursi yang tak beraturan. "Yah copotin baju aku dong" tiba tiba anak kang wira minta tolong. "Sayang, kamu sendirikan bisa melepas baju sendiri" sahut Kang Wira memberi penjelasan dengan kekesalan yang disembunyikan. "Lah tadi ayah begitu nurut kala aku minta sesuatu" Kata putri kang wira. "lain sayang, kalau tadi kan banyak tamu, lagian kamu sedang ulang tahun jadi ayah harus melayani semuanya, ya kamu juga teman teman kamu. "Kalau begitu, besok ulang tahun lagi saja, yah" katanya. Abis, kalau aku minta sesuatu nggak ada yang melayani" Katanya kesal.
Kang Wira tersentak, inilah kenapa ayah kang wira kelihatan bingung ketika memasuki masa pensiun. Dia banyak murung setelah menjalani pesiun pada tahun tahun awal. Pesta telah usai bagi seorang pensiunan. Tak bisa lagi meminta atau memerintah bawahannya. Meski ada pesta untuk anaku tahun depan, apakah ada pesta lanjutan untuk para pensiunan untuk bapakku? jawabnya angin telah berlalu dan layar telah berganti.
Kang Wira sibuk melayani tuan tuan kecil. Makanan, kueh dan minuman siap diantar kepada tamu undangan dan majikan (anak kang Wira). "Yah ambilin minum dong". "Yah, temen aku minta kue". Tanpa protes kang wira memenuhi semua kemauan anak semata wayangnya yang lagi jadi pusat perhatian. Demi anak tercinta kang Wira juga memberi sambutan dan doa dia awal acara.
Legalah hati Kang Wira setelah semuanya bubar. Pesta telah usai. Doa telah dipanjatkan, makan makan telah dilaksanakan. Tinggal, piring dan gelas kotor berserakan. Istri sibuk membenahi dan kang Wira sibuk menata kembali meja kursi yang tak beraturan. "Yah copotin baju aku dong" tiba tiba anak kang wira minta tolong. "Sayang, kamu sendirikan bisa melepas baju sendiri" sahut Kang Wira memberi penjelasan dengan kekesalan yang disembunyikan. "Lah tadi ayah begitu nurut kala aku minta sesuatu" Kata putri kang wira. "lain sayang, kalau tadi kan banyak tamu, lagian kamu sedang ulang tahun jadi ayah harus melayani semuanya, ya kamu juga teman teman kamu. "Kalau begitu, besok ulang tahun lagi saja, yah" katanya. Abis, kalau aku minta sesuatu nggak ada yang melayani" Katanya kesal.
Kang Wira tersentak, inilah kenapa ayah kang wira kelihatan bingung ketika memasuki masa pensiun. Dia banyak murung setelah menjalani pesiun pada tahun tahun awal. Pesta telah usai bagi seorang pensiunan. Tak bisa lagi meminta atau memerintah bawahannya. Meski ada pesta untuk anaku tahun depan, apakah ada pesta lanjutan untuk para pensiunan untuk bapakku? jawabnya angin telah berlalu dan layar telah berganti.
Rabu, 10 Februari 2010
LOYALITY
Kang Wira kesel anaknya nangis nggak mau berhenti. Dia terus minta diantar ke kota katanya disana ada arak arakan atau pawai. Sementara, pekerjaan kang wira menumpuk. Kang Wira bingung teringat atasan kang wira pernah ngomong "Kita harus loyal kepada atasan, pemerintah dan negara diatas kepentingan pribadi keluarga dan golongan. "Kang, akang loyal kan kepada saya?" tembak Bapak atasan kang Wira dengan tiba tiba. Kontan Kang Wira gelagapan dan menjawab sekenanya, "Amin!".
"Tuh kan, Yah. Rame" kata Putri Kang Wira ketika sampai di kota. Ya, memang di jalan jalan banyak orang berbaris tak beraturan dan saling berteriak teriak, "Bebaskan atasan kami!". Dia tidak bersalah!". Kang Wira melongo, ini mah bukan pawai tapi demo!". Orang berkerumun di kantor kejaksaan ada yang berteriak teriak, ada yang membawa poster dan ada yang berteriak sambil bawa poster.
Kang Wira terpesona nonton orang demo, penonton demo plus pedagang yang berkumpul. "Lumayan Kang, Kapan lagi ada keramaian seperti ini, ini rejeki yang tak terduga", kata pedagang ketika kang wira menghampiri pedagang yang terdekat karena anaknya minta jajan. Iya, dimana pun ada keramaian pasti ada simbiosis mutualisma. Kata Kang Wira dalam hati.
Tiba tiba ada seorang demonstran ngambil sebotol minuman langsung tenggak habis. "Mas demo apa ini?" tanya kang Wira. "Membela pemimpin kami yang tak bersalah" Katanya. "Apa sih kasusnya? tanya kang wira. "Nggak tahu" jawabnya enteng. "Loh nggak tahu? Emang siapa sih yang kena kasus?" tanya kang wira sekali lagi. Nggak tau juga mas," katanya sambil ngloyor pergi, sebentar kemudian balik lagi sambil berbisik, "saya hanya disuruh teriak teriak. Lumayan, mas, cukup untuk ongkos pulang". Kang Wira cuman bengong. "Ngapain nanya nanya kaya gitu, kang, kaya nggak tau aja" kata pedagang itu. Akang kan tau, Si itu kan sudah terkenal bermasalah, jadi ngapaian ditanyakan.
Kang wira bingung bin pusing, jadi kemanakah loyalitas diserahkan. Keluarga? perlu, negara? 'right or wrong is my country' lah. Gimana pimpinan? ente mau coba? tak pecatlah kau. Kang Wira pulang dengan wajah pucat, anaknya loncat loncat dan teriak menirukan tingkah demonstran. Kang Wira tambah pucat hatinya.
"Tuh kan, Yah. Rame" kata Putri Kang Wira ketika sampai di kota. Ya, memang di jalan jalan banyak orang berbaris tak beraturan dan saling berteriak teriak, "Bebaskan atasan kami!". Dia tidak bersalah!". Kang Wira melongo, ini mah bukan pawai tapi demo!". Orang berkerumun di kantor kejaksaan ada yang berteriak teriak, ada yang membawa poster dan ada yang berteriak sambil bawa poster.
Kang Wira terpesona nonton orang demo, penonton demo plus pedagang yang berkumpul. "Lumayan Kang, Kapan lagi ada keramaian seperti ini, ini rejeki yang tak terduga", kata pedagang ketika kang wira menghampiri pedagang yang terdekat karena anaknya minta jajan. Iya, dimana pun ada keramaian pasti ada simbiosis mutualisma. Kata Kang Wira dalam hati.
Tiba tiba ada seorang demonstran ngambil sebotol minuman langsung tenggak habis. "Mas demo apa ini?" tanya kang Wira. "Membela pemimpin kami yang tak bersalah" Katanya. "Apa sih kasusnya? tanya kang wira. "Nggak tahu" jawabnya enteng. "Loh nggak tahu? Emang siapa sih yang kena kasus?" tanya kang wira sekali lagi. Nggak tau juga mas," katanya sambil ngloyor pergi, sebentar kemudian balik lagi sambil berbisik, "saya hanya disuruh teriak teriak. Lumayan, mas, cukup untuk ongkos pulang". Kang Wira cuman bengong. "Ngapain nanya nanya kaya gitu, kang, kaya nggak tau aja" kata pedagang itu. Akang kan tau, Si itu kan sudah terkenal bermasalah, jadi ngapaian ditanyakan.
Kang wira bingung bin pusing, jadi kemanakah loyalitas diserahkan. Keluarga? perlu, negara? 'right or wrong is my country' lah. Gimana pimpinan? ente mau coba? tak pecatlah kau. Kang Wira pulang dengan wajah pucat, anaknya loncat loncat dan teriak menirukan tingkah demonstran. Kang Wira tambah pucat hatinya.
Langganan:
Postingan (Atom)